Bagi founder, salah satu harapan besarnya setelah bertahun-tahun membangun perusahaan adalah melihat anak-anak atau generasi penerus melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan dan kepemilikan perusahaannya. Namun, beberapa kasus yang terjadi dilapangan, next gen justru memilih berkarir di luar atau membangun bisnis sendiri, di luar bisnis orang tuanya. Mengapa hal ini terjadi? Artikel ini membedah dua isu yang sering kali menjadi tantangan dalam suksesi kepemimpinan di bisnis keluarga: ketiadaan kejelasan (clarity) dan kepastian (certainty).
Beberapa diantara Next Generation Memilih untuk Membuka Bisnis Baru atau Bekerja di Luar Perusahaan
Keinginan agar bisnis keluarga dilanjutkan oleh keturunan sendiri adalah hal yang ideal bagi banyak pengusaha. Namun, transisi ini tidak selalu berjalan mulus. Sering ditemukan kasus di mana next gen lebih memilih untuk mengejar peluang di industri lain daripada mengelola warisan yang sudah ada.
Ada kesenjangan antara harapan pendiri yang sudah merasa lelah membangun bisnis dengan minat generasi penerus. Meskipun bekerja di luar perusahaan keluarga bisa memberikan pengalaman berharga bagi keberlanjutan jangka panjang perusahaan, pilihan anak untuk belum bergabung di perusahaan keluarga menjadi tantangan tersendiri bagi founder family business.
Pentingnya Kejelasan (Clarity) dalam Struktur Bisnis
Berdasarkan pengalaman Fidelitas Advisors mendampingi bisnis keluarga di Indonesia selama kurang lebih dua dekade terakhir, diantara faktor penyebab anak-anak tidak mau melanjutkan bisnis keluarga adalah ketiadaan clarity atau kejelasan.
Banyak anak enggan bergabung karena mereka tidak melihat kejelasan mengenai peran apa yang akan mereka jalani. Tanpa adanya deskripsi tugas yang jelas dan batasan antara urusan keluarga serta profesionalisme kantor, generasi penerus sering kali merasa ragu untuk masuk ke dalam bisnis keluarga.
Menjamin Kepastian (Certainty) bagi Masa Depan
Selain kejelasan, faktor kedua yang sangat krusial adalah certainty atau kepastian. Generasi penerus membutuhkan kepastian mengenai jenjang karir dan hak-hak mereka di masa depan. Biasanya yang terjadi, proses suksesi hanya berbentuk janji lisan bahwa pada akhirnya bisnis keluarga akan dimiliki oleh next gen. Hal ini sudah bagus, namun belum cukup untuk memberikan kepastian kepada anak-anak generasi penerus. Tanpa adanya rencana tertulis yang pasti, anak-anak cenderung untuk bekerja dan berkarir di luar perusahaan keluarga.
Berdasarkan pengalaman kami mendampingi bisnis keluarga, ketiadaan clarity & certainty adalah 2 hal diantara beragam penyebab yang membuat anak-anak tidak mau melanjutkan perusahaan[1]
David Bingei, Fidelitas Advisors
Menarik minat generasi penerus untuk kembali ke bisnis keluarga membutuhkan lebih dari sekadar ajakan emosional. Sebagai founder, penting untuk mulai membangun sistem yang memberikan kejelasan peran dan kepastian masa depan. Setidaknya, dengan adanya kejelasan peran dan kepastian terkait masa depan mereka, anak-anak memiliki dasar dan alasan yang baik untuk bekerja di perusahaan keluarga.